Ekosistem Swa-Akademik
[Esai Terbaik Pertama versi Lomba Menulis Esai PPMI 2008]
Oleh Desi Hanara
I. Prolog; Membincang Realitas Keorganisasian Masisir
Membludaknya jumlah organisasi di komunitas Masisir kian bermakna ambigu. Di satu sisi, ini merupakan cermin geliat mahasiswa yang dinamis. Sementara di sisi lain, jumlah organisasi yang besar ini harus diakui sebagai salah satu pemicu dis-orientasi Masisir selaku insan akademik.
Dis-orientasi tersebut terpicu karena kebanyakan paradigma, sistem dan kegiatan yang ditawarkan oleh beragam organisasi-organisasi yang ada di komunitas Masisir kurang sinergis dengan misi akademik dan “semangat spesialisasi”[1]. Pada umumnya organisasi-organisasi tersebut—besar maupun kecilnya, secara serentak menyebabkan alienasi penghuninya dari serba-serbi akademik dan spesialisasi yang lazimnya niscaya.
Yang nahas, dis-orientasi ini sebagian besar tak disadari, bahkan diacuhkan. Ritme organisasi secara periodik terus dijalankan dan diwariskan tanpa banyak dikritisi apakah ritme organisasi tersebut kondusif terhadap stabilitas akademik komunitas yang menampung 5083[2] mahasiswa ini.
Klimaksnya, terjadilah pola berorganisasi yang sepenuhnya membahayakan atmosfer akademik, terjadilah kesalahan paradigma berorganisasi terstruktur yang selamanya meniscayakan pembenahan “radikal”.
II. Ragam Problematika Keorganisasian [Akut] Masisir
Problematika keorganisasian Masisir memang pelik dan telah sedemikian mengakar, problematika ini tumpang-tindih dan serentak menyamarkan corak akademik yang seharusnya merupakan corak utama komunitas yang menampung ribuan mahasiswa ini. Secara mendasar, problematika-problematika tersebut bisa dipetakan dalam beberapa poin berikut:
1. Aplikasi Student Government System (SGS) yang PincangDalam rentang lima tahun terakhir, PPMI—sebagai organisasi induk Masisir, dijalankan dengan Student Government System (SGS). Sistem yang serupa Sistem Trias Politika ini memusatkan kewenangannya pada tiga unsur pimpinan, yakni PPMI sebagai Badan Eksekutif, MPA sebagai badan Legislatif dan BPA sebagai Badan Yudikatif.
Jika ditilik dari terma dan corak SGS ini sendiri, seyogyanya dalam pengaplikasian SGS tersebut, tiga unsur pimpinan tadi harus senantiasa seimbang mengalokasikan wilayah perannya ke wilayah “kepemerintahan” (Government) dan “kepelajaran”nya (Student). Karena bagaimanapun, sesuai namanya, sistem pemerintahan ini harus tetap berkultur akademik, karena sistem ini menaungi 5083 orang yang berstatus mahasiswa.
Hanya pada kenyataannya, selama pengaplikasian SGS ini, para pelaksananya kebanyakan gagal menerjemahkan sistemnya ke dalam format yang tetap kental dengan nuansa akademik. Dalam dua periode terakhir, sekitar 88,82%[3] kegiatan PPMI, MPA dan BPA terbukti hanya berkutat di wilayah “kepemerintahan” saja.
Sebenarnya, telah banyak pihak yang meresahkan kepincangan aplikasi SGS ini, tapi sampai sekarang, belum ada yang berani merealisasikan gagasan-gagasan seputar perombakannya, atau minimal melakukan peninjauan “serius”.
Kepincangan ini menjadi fatal mengingat posisi PPMI sebagai organisasi sentral yang sebenarnya sangat potensial untuk membentuk paradigma berorganisasi ideal yang seyogyanya selalu mengedepankan kepentingan akademik dan semangat spesialisasi. Di samping, posisi PPMI sebagai organisasi sentral juga menjadikan PPMI sebagai agen beragam kegiatan yang bisa merangkul seluruh elemen Masisir.
Harusnya, sistem dan tradisi kegiatan yang berlaku di PPMI bisa menjadi teladan bagi organisasi-organisasi lainnya, bukan sebaliknya.
2. Hegemoni Aktifitas-Aktifitas Organisasi yang Kurang Sinergis terhadap Kepentingan Akademik dan Spesialisasi
Berangkat dari premis bahwa setiap Masisir, semenjak pertama kali tiba di Mesir akan serta-merta terdaftar menjadi anggota beberapa organisasi secara langsung. Sebutlah organisasi PPMI/WIHDAH-PPMI, organisasi Kekeluargaan, organisasi Almamater, Senat, juga Organisasi Afiliatif jika Masisir tersebut berdarah NU, Muhamadiah, PII, PERSIS dan lain sebagainya.Dan kebanyakan, Masisir memang cenderung lebih dekat secara emosional dengan Kekeluargaan, Almamater dan Afiliatif tadi.
Yang menjadi masalah adalah, kebanyakan kedekatan emosional semacam itu berujung pada rasa kedaerahan, kealmamateran atau keafiliasian yang berlebihan. Karena jelas, ini akan menyebabkan sikap ekslusivisme yang selanjutnya berimbas pada apatisme dan (bahkan) ketidak-tahuan terhadap khazanah keilmuan/budaya al-Azhar maupun Mesir secara umum.Apatisme tersebut muncul karena Masisir kebanyakan terbuai oleh beragam aktifitas lokal yang membuat mereka lupa terhadap eksistensinya sebagai mahasiswa asing yang sedang berdiam di “lumbung padi”.
Belum lagi maraknya organisasi-organisasi lainnya semisal organisasi Pers, Kelompok Kajian, LSM dan Perwakilan Parpol. Rutinitas-rutinitas organisasi-organisasi ini kebanyakan menjadi tidak sinergis dengan kepentingan akademik ketika pelakunya lalai menempatkan kepentingan akademik dan kecakapan spesialisasi anggota/pengurusnya sebagai prioritas utama.
Premis tersebut menjadi kian menyedihkan saat pola organisasi-organisasi tersebut justeru tanpa sadar berlomba-lomba menjadikan penghuninya dis-orientasi. Standar sukses-tidaknya organisasi yang terletak pada dinamika kegiatan, terus menghipnotis para pelaksana organisasi-organisasi tersebut untuk tak henti-hentinya menyelenggarakan kegiatan yang menyedot energi penghuninya.
3. Keterkucilan Senat
Senat adalah satu-satunya jenis organisasi di Masisir yang menghubungkan Masisir secara langsung dengan disiplin ilmunya. Senat adalah jendela kampus. Senat adalah tempat bergelut dengan masing-masing spesialisasi.
Dalam struktur SGS, Senat menempati posisi Lembaga Otonom bersama Wihdah-PPMI dan Organisasi Kekeluargaan. Tapi pada kenyataannya, Senat cenderung terkucilkan di komunitas Masisir. Daya tariknya tak sebesar daya tarik Wihdah-PPMI dan Organisasi Kekeluargaan.Secara pencitraan, di komunitas Masisir Senat tak dipandang sebagai organisasi “profit” yang representatif untuk ditumpangi sebagai kendaraan kreativitas dan popularitas. Senat cenderung dinilai tak prospektif. Senat tak bernilai jual. Senat jarang dilirik.
Maka tak heran jika selanjutnya, lima Senat yang terdaftar resmi di PPMI kebanyakan hanya berdinamika “begitu-begitu saja” dan digeluti “orang itu-itu saja”.
Ironis, jika saja Senat yang sekitar 97% kegiatannya murni berbau akademik dan penuh spesialisasi-oriented ini harus terus bercitra “rendah” dan minim dinamika di tengah komunitas mahasiswa yang sedang ditunggu sumbangsih keahlian dan perannya di Tanah Air sana.
III. Pembenahan “Radikal”-Terstruktur Sebagai Solusi
Bisa disimpulkan bahwa kebanyakan organisasi yang ada di Masisir, pernah berandil dalam peredupan kultur akademik pada komunitas Masisir. Pembenahan memang harus diupayakan secara struktural dan serentak. Harus ada satu standar baku yang ditetapkan sebagai tolak ukur bersama: AKADEMIK.
Berikut solusi-solusi yang dilandaskan pada riset program kerja dan (atau) kondisi keorganisasian secara umum, baik PPMI, BPA, MPA, WIHDAH-PPMI, Organisasi Kekeluargaan, organisasi Afiliatif, Senat Mahasiswa, organisasi Pers Mainstream dan organisasi Almamater:
1. Rekonstruksi Sistem Keorganisasian PPMI
Permasalahan inti yang selalu ingin penulis pertegas tentang apa kelemahan mendasar SGS adalah kepincangan aplikasi SGS tersebut. Kepincangan ini menimbulkan hegemoni aktifitas “kepemerintahan” yang selanjutnya mereduksi nuansa akademik. Sebuah nuansa yang seharusnya merupakan identitas utama komunitas Masisir ini.
Pembagian kewenangan ke dalam Badan Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif benar-benar mempertegas corak pemerintahan yang dzalim terhadap akademik. Yudikatif sibuk dengan beragam persidangan, legislatif santer eksistensinya lewat Pemilu Raya yang terbukti mengeksploitasi bukan hanya dana yang besar, tapi juga energi para pelaksananya yang seharusnya murni tercurahkan untuk kegiatan-kegiatan yang sinergis dengan akademik dan tuntutan peran.
Dan yang lebih memprihantinkan, dalam beberapa LPJ dan LKS DPP-PPMI, tercantum beberapa permasalahan sosial-kemasyarakatan Masisir yang banyak menyita energi DPP-PPMI. Seperti pada periode 2006-2007, DPP-PPMI harus tersibukkan dengan permasalahan Ongkos Naik Haji (ONH) Masisir, permasalahan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), permasalahan Komite Peduli Interaksi (KPI), permasalahan Renovasi Wisma Nusantara, permasalahan Penurunan Standar Minimal Nilai Ujian Depag RI ke Timur Tengah dan permasalahan Komite Pelaksana Pendaftaran Mahasiswa Baru (KPP MABA). Dan pada periode 2007-2008, dalam satu semester kepengurusannya DPP-PPMI juga harus terbebani dengan beragam permasalahan yang tidak bisa dipandang sepele. Di awal kepengurusannya, DPP-PPMI harus diguncang dengan konflik antar antar-mahasiswa yang berujung “panas” di KBRI. Lalu masalah keamanan mahasiswa yang sudah tak lazim beberapa bulan terakhir, terutama di kawasan H-10 dan lain sebagainya.
Jadi, bisa dilihat dengan jelas, bagaimana tiga unsur pimpinan ini tak satupun yang berkonsentrasi penuh dalam menggalakkan dan mengakomodasi kegiatan-kegiatan akademik. Tidak juga DPP-PPMI yang terbukti selama satu tahun di periode 2006-2007 dan satu semester di periode 2007-2008 hanya bisa menyelenggarakan 33,54% saja kegiatan-kegiatan yang berorientasi akademik. Karena bagaimanapun, keberadaan satu departemen[4] saja di DPP-PPMI yang berfungsi pokok mengatur kegiatan-kegiatan keilmuan dan peningkatan intelektualitas ditambah dua departemen yang tidak sepenuhnya bisa all out, selamanya tak akan cukup untuk dijadikan fasilitas pengubahan paradigma dan mentalitas berorganisasi di komunitas Masisir ini. Apalagi untuk menggeser hegemoni kegiatan “kepemerintahan” MPA, BPA dan beberapa Departemen di tubuh DPP-PPMI sendiri.
Realita ini kemudian menjadi landasan analisa bagi penulis bahwa harus ada pembagian mainstream dan wewenang yang didasarkan pada klasifikasi corak perannya. Di mana urusan “kepelajaran” harus berdiri independen dan dijalankan dengan independen pula. Pembagiannya cukup ke dalam dua mainstream dan wewenang, yakni “mainstream dan wewenang kepelajaran” serta “mainstream dan wewenang sosial-kemasyarakatan”.
Jika sudah begini, dua mainstream dan wewenang ini akan berjalan bersisian dan tidak tumpang tindih, kedua-duanya akan bergelut dengan tugasnya masing-masing dan mengupayakan keoptimalannya. Lalu dinamika akademik pun, akan terus terangkat dan mewarnai tanpa pengabaian terhadap pentingnya urusan sosial-kemasyarakatan Masisir yang telah serupa miniatur urusan bangsa ini. Dan selanjutnya, stabilitas akademik akan perlahan menjadi acuan pola berorganisasi di komunitas Masisir ini.
“Mainstream dan wewenang kepelajaran” akan terus gencar menyelenggarakan dan mengakomodasi setiap kegiatan yang berorientasi akademik dan semangat spesialisasi, ia tak akan lagi terusik dengan permasalahan-permasalahan sosial- kemasyarakatan, ia tak akan lagi mengeksploitasi dana/energi kegiatan yang tak selazimnya, ia hanya akan merangkul organisasi-organisasi dan kegiatan-kegiatan yang sinergis dengan misinya.Begitu pula “mainstream dan wewenang sosial-masyarakat”, ia akan dijalankan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan mengakomodasi setiap kebutuhan orang-orang yang berkepentingan pula. Ia akan dipoles dengan penuh efektifitas dan efisiensi. Ia tak lagi mendzalimi akademik.
2. Intensifikasi Peran WIHDAH-PPMI sebagai Orginasasi Induk Mahasiswi
Dalam pengamatan penulis, WIHDAH-PPMI periode 2006-2008 dengan kapasitasnya yang serupa DPP-PPMI, telah cukup baik menghiasi dinamikanya dengan kegiatan-kegiatan yang bermisi akademik. WIHDAH-PPMI termasuk organisasi non-akademik dan non spesialisasi-oriented yang cukup intens menggelar kegiatan akademik.
Tapi ada yang kontradiktif dari perjalanan WIHDAH-PPMI periode 2006-2008 lalu. Di tengah wacana yang merebak tentang merosotnya intelektualitas mahasiswi, Bidang Intelektual WIHDAH-PPMI yang pada periode ini dikonsentrasikan perannya untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang meningkatkan akademis, tsaqâfah dan kemampuan bahasa mahasiswi, ternyata bisa menggelar kegiatan TERBANYAK dibanding Bidang-bidang lainnya di WIHDAH-PPMI.[5]Yang perlu menjadi evaluasi adalah: WIHDAH-PPMI pada periode tersebut kurang “serius” menanggapi dan menindak-lanjuti wacana tentang pemerosotan intelektualitas mahasiswi tersebut.
Jika menilik kontroversial yang berkembang saat itu, WIHDAH-PPMI seharusnya bergegas mencari persamaan persepsi Mahasiswi tentang wacana tersebut; apakah benar intelektualitas mahasiswi merosot? Apa standar intelektualitas yang dimaksud? Jika benar merosot, apa solusinya? Dan lain sebagainya. Persamaan persepsi tersebut bisa ditempuh misalkan via ketua keputrian semua organisasi yang ada di Masisir berikut Tokoh-tokoh Mahasiswi. Jika saja ini terlaksana, WIHDAH-PPMI bukan hanya telah tanggap terhadap wacana kemahasiswian, tapi juga cekatan untuk mencari solusi kolektif tentang bagaimana merumuskan dan membangun pencitraan mahasiswi secara umum.
Contoh kasus di atas sebenarnya hanya permisalan kecil tentang bagaimana idealnya menjadi Organisasi Induk yang peka. Kepekaan tersebut sebenarnya bukan hanya bisa dinilai dari “greget” untuk menggelar kegiatan dengan kuantitas dan intensitas yang besar, tapi juga bagaimana harus membangun pencitraan umum. Karena secara kelembagaan, WIHDAH-PPMI sebagai organisasi induk mahasiswi, berhak menetukan sikap kolektif terhadap problematika dan isu-isu mahasiswi.
Jika begini, kontradiksi “miring”nya isu seputar intelektualitas mahasiswi sebenarnya tak perlu berbanding terbalik lagi dengan upaya WIHDAH-PPMI yang sebenarnya BESAR dalam mendukung peningkatannya.
Apalagi secara struktural, instrumen WIHDAH-PPMI sebagai organisasi induk mahasiswi sudah lebih dari cukup (terlebih pasca ditambahnya Badan Otonom Kajian Fakultatif yang mulai digalakkan sejak periode terbaru ini atas amanat SPA), tinggal bagaimana WIHDAH mensinergikannya, agar program-program dukungan terhadap intelektualitas, akademik dan bahasa yang telah terkemas cukup baik tersebut bisa terlaksana dan tersosialisasi dengan lebih intensif.
3. Penanggulangan Kecendrungan Ekslusivisme Warga Organisasi Kedaerahan, Afiliatif serta Almamater
Benar bahwa Organisasi Kekeluargaan, Afiliatif dan Almamater merupakan wadah pengabdian sekaligus sarana penyambung tali kedaerahan, keafiliasian dan kealmamateran bagi Masisir.Benar juga bahwa organisasi-oganisasi tersebut merupakan wadah untuk membina kader/anggota dan merumuskan peta perjuangan kolektif bagi masing-masing generasi-generasi Daerah, Afiliatif dan Almamater.
Hanya saja, di komunitas Masisir fungsi struktural tersebut tidak banyak yang terlaksana optimal. Yang lebih tampak justeru bias kedaerahan, keafiliasian dan kealmamateran yang kebanyakan kontra-produktif terhadap eksistensi Masisir selaku mahasiswa luar negeri karena menimbulkan sikap ekslusivisme.
Seperti yang pernah penulis singgung sebelumnya, sikap ekslusivisme tersebut kerap berujung pada apatisme dan (bahkan) ketidak-tahuan atas sumber-sumber khazanah keilmuan/budaya Mesir dan al-Azhar. Hal ini terjadi karena kebanyakan anggota/pengurus organisasi Kekeluargaan, Afiliatif dan Almamater tersebut terlalu terbuai dengan aktifitas-aktifitas “lokal” kedaerahan, keafiliasian dan kealmamateran.
Selain itu, sikap ekslusivisme tersebut juga beberapa kali berujung pada perselisihan antar daerah yang kontra-produktif terhadap keharmonisan dan kesatuan Masisir.
Menurut penulis, kecendrungan ekslusivisme tersebut bisa diatasi dengan cara-cara berikut:
a. Re-orientasi Fungsi Organisasi Kekeluargaan, Afiliatif dan AlmamaterJika peran utama tiga jenis organisasi tersebut adalah sebagai wadah pengabdian, tali penyambung silaturahmi, wadah pembinaan kader/anggota sesuai misi organisasi induknya, serta wadah perumusan peta perjuangan kolektif ketika kelak kembali ke tanah air. Maka fungsi inilah yang perlu ditekankan kembali kepada para pengurus dan anggotanya untuk kemudian dilaksanakan secara efektif dan optimal. Dengan catatan tetap mengutamakan kepentingan akademik dan spesialisasi penghuninya.
b. Evaluasi Sistem dan Pola Organisasi Kekeluargaan, Afiliatif dan AlmamaterEvaluasi sistem dan pola organisasi memang perlu diadakan. Apakah sistem yang selama ini dijalankan sesuai dengan kondisi anggota yang notabene merupakan insan akademik? Apakah sistem dan pola organisasi mendukung fungsi asli keberadaan tiga jenis organisasi tersebut? Apakah intensitas kebersamaan penghuni organisasi-organisasi tersebut cenderung kontra-produktif terhadap pola pergaulan juga kemampuan bahasa penghuninya? Seberapa besar keberadaan sekretariat difungsikan sebagai pusat pembinaan anggota dan transformasi ilmu?
Evaluasi semacam ini penting agar ritme organisasi tidak terus diwariskan tanpa ada kritisme akan relevansinya.
c. Penggalakan “Pantau Dinamika”Jika dicermati, organisasi-organisasi Afiliatif ada dengan kekhasan dinamikanya masing-masing, PCI-NU identik dengan kajian-kajian intensif keislaman, pemikiran klasik/kontemporer, tasawuf dan juga pro-aktif dalam mengeksplorasi khazanah keislaman Mesir secara langsung. PCIM kebanyakan concern dengan pendidikan. PWK-PII santer dengan pembinaan bahasa asing. PWK-PERSIS dengan program tahfidz/tahsin-nya.
Dinamika-dinamika yang khas semacam ini sebenarnya bisa diberdayakan sebagai fasilitas pembauran antar Afiliatif. Anggota-anggota Afiliatif bisa direkomendasikan untuk memantau dinamika Afiliatif lainnya, atau juga langsung berpartisipasi.
Begitu pula organisasi-organisasi Kekeluargaan dan Almamater. Mereka juga bisa saling pantau, saling baur dan saling mutual.
d. Pembudayaan Sikap Terbuka Terhadap PluralitasOrganisasi-organisasi Kekeluargaan, Afiliatif dan Almamater kebanyakan rutin menggelar Orientasi MABA. Momen ini sangat cocok untuk dijadikan wadah pembudayaan sikap terbuka terhadap pluralitas sejak dini. Harus dijelaskan secara gamblang bahwa kondisi komunitas Masisir ini tak ubahnya seperti miniatur bangsa kita. Harus diajarkan bagaimana idealnya bersikap di tengah keberagaman. Harus dibudayakan pembauran dini bagi anggota-anggota baru semisal dengan merekomendasikan organisasi-organisasi yang lebih plural secara keanggotaan untuk digeluti.
e. Pembudayaan “Sikap Sadar Eksistensi”Kedekatan emosional anggota/pengurus Kekeluargaan, Afiliatif dan Almamater bisa diberdayakan menjadi energi positif dalam pensosialisasian “Sikap Sadar Eksistensi” ini.Yang dimaksud dengan “Sikap Sadar Eksistensi” adalah kesadaran akan eksistensi diri sebagai duta bangsa yang sedang belajar di luar negeri. Jika kesadaran semacam ini telah tumbuh, tak akan lagi ditemukan Masisir yang menyia-nyiakan khazanah al-Azhar dan Mesir yang tumpah ruah ini dengan apologi kesibukan aktifitas-aktifitas “lokal” yang membebaninya.
Demikian upaya-upaya yang secara umum ditujukan untuk menanggulangi dua macam kecendrungan ekslusivisme. Yakni kecendrungan ekslusivisme untuk hanya bergaul dengan sesama; sesama suku/daerah, sesama ideologi/afiliatif dan sesama latar belakang pendidikan/almamater. Dan kecendrungan ekslusivisme yang berujung pada keengganan menyadari posisi selaku mahasiswa luar negeri.
4. Regulasi Kegiatan Pers, Kelompok Kajian, Ormas, LSM dan Perwakilan Parpol
Tidak diingkari bahwa eksistensi organisasi Pers, Kelompok Kajian, Ormas, LSM dan Perwakilan Parpol merupakan ajang untuk mengasah kecakapan sekunder bagi Masisir. Kegiatan-kegiatan ini juga penting sebagai pelengkap wawasan, skill dan pengalaman organisatoris Masisir.
Tapi dalam rangka perbaikan paradigma dan mentalitas berorganisasi Masisir yang idealnya terus mengedepankan misi akademik dan semangat spesialisasi, kiranya perlu ditekankan pemahaman dan kesadaran bersama bahwa organisasi-organisasi tersebut harus diposisikan sebagai prioritas sekunder. Aktifitas yang bermisi akademik dan spesialisasi-oriented lah yang harus tetap menjadi prioritas primer.
Jika begini, tentu ke depan akan timbul kepekaan dari masing-masing organisasi-organisasi tersebut untuk tetap berdinamika tanpa merenggut kesempatan anggota dan pengurusnya untuk terus memprioritaskan kepentingan akademik dan spesialisasinya. Waktu pelaksanaan aktifitas organisasi-organisasi tersebut pun akan dikondisikan sedemikian-rupa sehingga tak lagi mengusik jam-jam wajib [ber]Kampus dan [ber]Senat. Begitu juga timing penutupan aktifitasnya yang akan dijadwalkan lebih antisipatif terhadap jadwal ujian.
5. Revitalisasi Keberadaan Senat dan Intensivikasi Fungsinya
Problematika kesalahan paradigma sekaligus mentalitas berorganisasi di komunitas Masisir salah satunya berujung pada keterkucilan Senat yang sebenarnya merupakan basis organisasi di komunitas mahasiswa. Dan kesalahan tersebut harus dibenahi. Harus ada upaya-upaya real untuk menjadikan eksistensi senat menjadi vital dan tak lagi minim pegiat.Upaya-upaya real tersebut di antaranya sebagai berikut:
a. Penanaman Paradigma akan Pentingnya Peran Senat via Orientasi MABAPenanaman paradigma tentang urgennya peran senat dalam membentuk mahasiswa-mahasiswa yang mapan dalam disiplin ilmu dan berorientasi peran harus diupayakan sejak awal kedatangan MABA di Mesir.
Pada Orientasi MABA angkatan 2006-2007, Senat telah diberi kesempatan untuk “unjuk diri” saat Orientasi MABA, tapi pada Orientasi MABA angkatan 2007-2008 ini, Senat tak diberikan peluang serupa untuk merangkul MABA lebih dini.
Tampaknya, ini perlu diberlakukan lagi. Mengingat Senat adalah organisasi paling “aman” bagi MABA.
Selain itu, Penampilan para ketua Senat yang berperan sebagai orator Senat harus benar-benar persuasif saat menyampaikan pentingnya fungsi Senat sebagai tempat kondusif untuk bergelut dengan masing-masing disiplin ilmu.
b. Intensifikasi Orientasi Kesenatan yang Digelar oleh Tiap-Tiap Senat.Melalui event ini, kampanye tentang pentingnya peran Senat bisa dilakukan dengan lebih komprehensif. Pada kesempatan ini Senat harus benar-benar memberikan gambaran utuh tentang Fakultas dan aktifitas ke-Senat-annya, baik pengenalan fakultas, orientasi diktat kuliah, tipikal pengajar maupun orientasi peran para alumni fakultas tersebut. Selain juga gambaran utuh tentang aktifitas kesenatan semisal ragam aktifitas Senat (Diskusi Fakultatif, Seminar, Bedah Buku, Bedah Diktat, Bedah Tesis/Disertasi, Wisata Karya, dan lain sebagainya), fasilitas bimbingan belajar maupun pengenalan mahasiswa berprestasi per-senat dan senior-senior senat.
c. Memfasilitasi Kegiatan Senat dan Menepis Stereotip Senat sebagai Organisasi Non-“Profit”
Tak bisa ditampikkan bahwa di Komunitas Masisir ada semacam wacana pengkotak-kotakan “nilai jual” organisasi. Di mana beberapa Masisir berkecendrungan memilah-milah organisasi sesuai dengan label “profit” dan non-“profit”.Label “profit” kerap dinisbahkan pada organisasi-organisasi yang memiliki sumber dana besar dan menjanjikan kesempatan TEMUS. Sementara yang tidak, serta-merta diberi label non-“profit”.
Kecendrungan semacam ini sebenarnya manusiawi dan tak salah. Hanya saja menjadi nahas dalam pembahasan ini karena Senat—sebagai satu-satunya organisasi yang bermisi akademik murni dan spesialisasi-oriented di komunitas Masisir, rupanya termasuk dalam kategori organisasi non-“profit”. Para pegiat Senat tak dijanjikan kesempatan TEMUS, sumber dana untuk kebutuhan Senat pun, baru semenjak periode PPMI 2007-2008 ini dialokasikan secara tetap per-termin oleh DPP-PPMI sendiri dan ditambah dana dari BWAKM.
Menurut penulis, sudah saatnya aktifitas Senat didukung dan difasilitasi dengan lebih optimal, selain juga pengalokasian kesempatan TEMUS bagi para pegiat Senat perlu dipertimbangkan. Karena harus diakui, ini merupakan salah satu cara untuk menepis stereotip non-profit tersebut.
Selain revitalisasi keberadaan senat, intensifikasi fungsinya juga harus diupayakan. Mengingat dari lima senat yang terdaftar resmi di PPMI, hanya FSQ, SEMA FSI dan SEMA-FBA yang terdata intens menyelenggarakan aktifitas kesenatan dan beberapa kali menggelar kegiatan sekelas Masisir. Sementara SEMA-FU dan SEMA-FDI terdata masih “jatuh bangun”.
SEMA-FU dan SEMA-FDI memang harus kembali menyadari urgensi keberadaan mereka sebagai organisasi vital akademik. Segala cara harus diupayakan untuk mengggalang kekuatan pengurus, mengadakan sekretariat, merumuskan dan menjalankan kembali program-program yang pernah ataupun belum dilaksanakan, merangkul anggota, memberdayakan anggota yang berprestasi, melibatkan senior senat dan lain sebagainya. Sehingga ke depan, SEMA-FU dan SEMA-FDI bisa mengimbangi dinamika FSQ, SEMA-FSI, dan SEMA-FBA.Dan FSQ, SEMA-FSI dan SEMA-FBA pun harus terus mengintensifkan fungsinya, jika selama ini kajian dan diskusi kesenatan hanya melibatkan anggota senat, pengurus senat, senior senat dan tokoh Masisir, maka akan lebih baik jika ke depan, Senat bisa memberdayakan Dosen-Dosen al-Azhar untuk diundang berdiskusi langsung. Baik dalam format diskusi internal antar warga senat atau dalam forum Masisir.
Wacana-wacana kefakultasan pun hendaknya kian gencar ditransformasikan dan diintensifkan ke dalam format Pelatihan (training), Lokakarya (workshop), Simposium, Seminar, Bedah Buku, Bedah Tesis/Disertasi, Bedah Diktat Kuliah dan lain-lain secara komprehensif dan berkala.
Di samping, senat juga harus memperkaya wawasan peran anggotanya kelak ketika kembali ke tanah air. Sebagai mahasiswa luar negeri, Masisir seyogyanya senantiasa intens dengan wacana di tanah air, khususnya yang menyangkut spesialisasi dan disiplin ilmu mereka. Senat bisa membantu anggotanya dengan lebih gencar mensosialisasikan fasilitas-fasilitas cyber serupa mailing list, website/weblog, komunitas baca online, komunitas online, perpustakaan online, info beasiswa/lapangan peran online dan lain sebagainya sebagai sarana efektif untuk berdialektika dengan rekan interspesialisasi dalam jangkauan maha-luas.
Jika saja aktifitas Senat bisa sedinamis ini, bisa dipastikan sense of belonging anggota maupun pengurus senat yang menjadi masalah besar bagi hampir keseluruhan Senat di Masisir akan terselesaikan. Dan selanjutnya, tentu tak akan ditemukan lagi Masisir yang miskin terhadap disiplin ilmunya sendiri.
IV. Epilog; Ekosistem Swa-akademik, Akademik Standar Nilai Bersama
Permasalahan kompleks memang selalu meniscayakan identifikasi jeli dan “jujur” serta perombakan yang komprehensif. Begitu juga dengan problematika keorganisasian Masisir yang “ruwet” ini. Harus diadakan evaluasi serentak. Harus diadakan re-orientasi menyeluruh. Harus diadakan perombakan terstruktur yang “berani”. Harus ada satu tolak ukur yang dijadikan standar nilai bersama di tengah kepluralitasan ini.
Ekosistem Swa-akademik menawarkan stabilitas akademik sebagai satu-satunya standar nilai baku di komunitas yang dihuni ribuan mahasiswa ini. Ekosistem Swa-akademik adalah corak ekosistem yang sepenuhnya pro-akademik. Ekosistem Swa-akademik bertujuan membentuk komunitas yang peduli dan peka terhadap misi akademik dan semangat spesialisasi. Ekosistem Swa-akademik menata dan mengeliminir rutinitas-rutinitas yang tak sinergis dengan kepentingan akademik. Ekosistem Swa-akademik akan mengawali perubahan paradigma dan mentalitas berorganisasi yang salah di Komunitas Masisir ini. Ekosistem Swa-akademik akan mendukung lahirnya mahasiswa-mahasiswa al-Azhar yang mapan disiplin ilmu dan berwawasan peran.
Catatan kaki:
[1] “Semangat Spesialisasi” yang penulis maksudkan adalah semangat untuk bersiteguh dengan jurusan yang telah menjadi disiplin ilmunya sembari terus memperkaya keahlian sesuai dengan tuntutan spesialisasinya
[2] Jumlah ini didasarkan pada data yang tercantum dalam Term of Reference (TOR) LOKAKARYA DUKUNGAN TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI MAHASISWA INDONESIA DI MESIR, sementara versi lain menyebutkan jumlah Masisir mencapai 5095 orang, yakni versi yang didasarkan pada tulisan Presiden PPMI di Buletin Informatika Edisi 130 16-29 Februari 2008
[3] Presentase ini didasarkan pada Kaleidoskop Kegiatan dan (atau) Program Kerja Terlaksana per-tahun/per-semester PPMI, MPA dan BPA selama dua periode terakhir. Yakni 2006-2007, 2007-2008
[4] Departemen yang berfungsi pokok mengatur kegiatan-kegiatan keilmuan dan peningkatan intelektualitas adalah Departemen Pendidikan dan Keilmuan. Sementara dua departemen lain yang juga memiliki beberapa program bercorak pembinaan akademik/intelektualitas tapi tidak all out adalah Departemen Kaderisasi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia serta Departemen Luar Negeri
[5] Tercatat 14 kegiatan yang berhasil digelar Bidang Intelektual WIHDAH-PPMI periode 2006-2008 yang bemisi peningkatan akademik, tsaqâfah, dan Bahasa. Kegiatan Bidang ini mengungguli kuantitas penyelenggaraan kegiatan Bidang-Bidang WIHDAH-PPMI yang lain, seperti Bidang Organisasi yang hanya menggelar 10 kegiatan sesuai dengan misi bidangnya, Bidang Minat dan Bakat tujuh kegiatan, Bidang Kerohanian sebelas kegiatan, Bidang Sosial Kesejahteraan tiga kegiatan, dan Bidang Publikasi dan Penerbitan enam kegiatan
Penulis adalah Mahasiswi Fak. Syari'ah wal Qanun, Tk. III 2007-2008, Universitas al-Azhar Cairo
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment